Arbain Nawawi II
1/42

الحـديث الثاني

الحــديث الأول

HADIS PERTAMA

 

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

 

Kosa kata / مفردات :

الأعمال (العمل)     : Perbuatan

امرء       : Seseorang

نوى                  : (Dia) niatkan

امرأة      : seorang wanita

 

Arti Hadis / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah e bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan([1]) tergantung niatnya([2]).  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ([3]) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadis, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

 

Catatan :

1.     Hadis ini merupakan salah satu dari hadis-hadis yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadis tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadis ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadis ini merupakan sepertiga Islam.

2.      Hadis ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

 

Pelajaran yang terdapat dalam Hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

2.     Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

3.     Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.

4.     Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

5.     Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

6.     Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

7.     Hadis diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث

1. Niat dan keikhlasan    : 7 : 29, 98 : 5

2. Hijrah                         : 4 : 97, 2 : 218, 3 : 195, 8 : 72

3. Fitnah dunia               : 3 : 145, 4 : 134, 6 : 70, 8 : 67.

 

 



1. Yang dimaksud perbuatan disini adalah amal ibadah yang membu-tuhkan niat. Adapun perbuatan buruk niat baiknya tidak akan merubah buruknya menjadi baik

2.  Niat adalah keinginan dan kehendak hati.

3. Hijrah secara bahasa artinya : meninggalkan, sedangkan menurut syariat  artinya : meninggalkan negri kafir menuju negri Islam dengan maksud menyelamatkan agamanya. Yang dimaksud dalam hadis ini adalah perpindahan dari Mekkah ke Madinah sebelum Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekkah th. 8 H).

Arbain Nawawi II
2/42

الحـديث الثاني

الحـديث الثاني

HADIS KEDUA

 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .   [رواه مسلم]

Kosa kata /مفردات :

طلع                 : Terbit / datang

 العراة (العاري)     : telanjang

أسند                : Menyandarkan

 رعاء (راعي)      : Penggembala

كفَّيه (كف)        : Kedua telapak 

                       tangan

يتطاولون        : saling meninggikan

فخذيه (فخذ)       : Kedua pahanya

 انظلق         : Berangkat / Bertolak 

ركبتيه (ركبة)       : Kedua lututnya

أثر                  : Bekas

الحُفاة (الحافي)       : telanjang kaki

 أمارات (أمارة)    : tanda-tanda

 

Arti hadis / ترجمة الحديث :

 

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah e suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah e ) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah e: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullahe) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

 

Catatan :

          ·         Hadis ini merupakan hadis yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan .

          ·         Hadis ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah e) 

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

2.     Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

3.     Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“,  dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

4.     Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

5.     Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

6.     Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.

7.     Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

8.     Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

 

1. Iman        : 2 : 285, 5 : 5, 6 : 82 dll.

2. Islam       : 2 : 112, 4 : 125, 72 : 14, 40 : 66, 3 : 19, 5 : 3

3. Ihsan       : 18 : 30, 28 : 77, 17 : 7, 5 : 93

4. Hari akhir         : 7 : 187, 22 : 7, 31 : 34 .

5. Ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui  : 2 : 3, 27:65,  6 : 50, 7 : 188

6. Belajar & mengajarkan Islam : 16:43, 21:7, 3:79, 9:122

 

 

Arbain Nawawi II
3/42

الحـديث الثالث

الحـديث الثالث

HADIS KETIGA

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.             [رواه الترمذي ومسلم ]

                       

 

Kosa kata / مفردات :

سمعتُ  : (saya) mendengar

بُنِيَ (بَنَى)  : Dibangun

 

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh- Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah e bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.                   (Riwayat Turmuzi dan Muslim)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Rasulullah e menyamakan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak diatas tiang-tiang yang mantap.

2.     Pernyataan tentang keesaan Allah dan keberadaannya, membenarkan kenabian Muhammad e,  merupakan hal yang paling mendasar dibanding rukun-rukun yang lainnya.

3.     Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

4.     Wajib mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang syarat-syarat wajibnya zakat sudah ada pada mereka lalu memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

5.     Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.

6.     Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma’.

7.     Nash diatas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadis. Rasulullah e  bersabda:

الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً

“ Iman itu terdapat tujuh puluh lebih cabang “

8.     Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal .

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

 

1. Wala’ dan Bara’ dalam syahadatain : 2 : 256, 16 : 36

2. Shalat      : 2 : 3, 19 : 31, 20 : 132,

3. Zakat       : 9 : 71, 19 : 55, 73 : 20

4. Haji                   : 3 : 97, 2 : 196, 22 : 27

5. Puasa      : 2 : 183, 2 : 185.

 

 

Arbain Nawawi II
4/42

الحـديث الرابـع

الحـديث الرابـع

HADIS KEEMPAT

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا .                                    [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata /  مفردات  :

حدثنا : menyampaikan (kpd kami)

خَلْقه   : penciptaan(nya)

بطن             : perut

نطفة   : setetes mani

علقة             : setetes darah

مضغة  : segumpal daging

المَلَكَ    bentuk tunggal dari  ملائكة

يَنْفُخُ   : Meniup

أجله            : kematian (nya)

شقيٌّ   : Celaka

سعيد           : bahagia

ذراع   : hasta (jarak antara

يسبق           : mendahului

telapak tangan dan siku)

Terjemah Hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullahe menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga  maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.

2.     Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.

3.     Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

4.     Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.

5.     Tenang dalam masalah rezeki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.

6.     Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.

7.     Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1.     Pengorbanan seorang ibu yang mengandung : 31 : 14

2.     Teori reproduksi manusia  : 22 : 5, 23 : 14

3.     Takdir     : 57 : 22, 64 : 11

4.     Husnul khotimah       : 2 : 132, 4 : 18

 

 

Arbain Nawawi II
5/42

الحـديث الخامس

الحـديث الخامس

HADIS KELIMA

 

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

 

Kosa kata / مفردات :

أحدث    : Mengada-ada

 

ردٌّ   : Tertolak

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah e bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya[1]), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya.

2.     Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syari’at.

3.     Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah e telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.

4.     Agama Islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Kesempurnaan Islam   : 5 : 3,

2. Bid’ah dan taklid                   : 57 : 27, 17 : 36

 

 



1. Yang dimaksud adalah, perbuatan-perbuatan yang dinilai ibadah tetapi tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak memiliki landasan yang jelas, atau yang lebih dikenal dengan istilah bidah.

Arbain Nawawi II
6/42

الحــديث السادس

الحــديث السادس

HADIS KEENAM

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ                                       [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

 

بَيِّنٌ              : jelas

أمور (أمر)  : Perkara-perkara

مشتبهات       : samar/syubhat

اتقى           : Menghindar

اسْتَبْرَأ          : Membebaskan

عِرْضه       : kehormatan (nya)

وقع            : terjerumus, melakukan

الراعي       : penggembala,

يرعى          : menggembala

    pemimpin

يوشك          : hampir, nyaris

الحمى       : batas, pematang.

مضغة         : segumpal daging

صلح(ت)    : baik, layak,

فسد(ت)       : rusak

 

 

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث  :

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah e bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.                        (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

 

 

Catatan :

        ·    Hadis ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari’at. Abu Daud berkata : Islam itu berputar dalam empat hadis, kemudian dia menyebutkan hadis ini salah satunya.

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Termasuk sikap wara’[1]) adalah meninggalkan syubhat .

2.     Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.

3.     Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.

4.     Memberikan perhatian terhadap masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik.

5.     Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.

6.     Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.

7.     Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.

8.     Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Penetapan halal dan haram : 2 : 275, 16 : 115, 5 : 87

2. Menghindari syubhat            : 49 : 12

3. Kedudukan hati                    : 26 : 89, 16 : 106, 22 : 46

4. Allah Maha Berkuasa (Raja)  : 5 : 40, 114 : 2

 

 



1. Wara adalah sikap dari rasa takutnya seseorang dari perbuatan haram.

Arbain Nawawi II
7/42

الحــديث السابع

الحــديث السابع

HADIS KETUJUH

 

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ .                      [رواه البخاري ومسلم]

 

          Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah  e bersabda : Agama adalah nasehat[1])[2]), kami berkata : Kepada siapa ?  beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya [3]). (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Pelajaran :

1.     Agama Islam berdiri tegak diatas upaya saling menasihati, maka harus selalu saling menasihati diantara masing-masing individu muslim.

2.     Nasihat wajib dilakukan sesuai kemampuannya .

 

Tema hadis dan ayat yang terkait dengannya :

1. Da’wah dan Amar Ma’ruf Nahi munkar : 3 : 104, 3: 110, 41 : 33

3.     Pentingnya selalu upaya untuk saling mengingatkan :   51 : 55, 87 : 9.

 

 



1. Nasehat adalah : ungkapan yang menyeluruh berupa keinginan yang  mencakup semua kebaikan.

2. Yang dimaksud adalah bahwa nasehat merupakan penopang agama. 

3. Yang dimaksud dengan nasehat kepada Allah adalah beriman kepadanya, tidak menyekutukannya, mensucikannya dari segala kekurangan, taat kepada-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Nasehat kepada Rasul-Nya adalah membenarkan risalahnya, beriman kepada semua yang dibawanya, menghormatinya, melaksanakannya ajarannya dll.

Arbain Nawawi II
8/42

الحـديث الثـامن

الحـديث الثـامن

HADIS KEDELAPAN

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم    قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا  مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ

[رواه البخاري ومسلم ]

 

Kosa kata / مفردات :

 

أُمِرْتُ      : aku diperintahkan

أُقَاتِل      : (aku) Memerangi

دماء        : bentuk jamak dari دم  :    darah

عصموا   : mereka terlindung

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث  :

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah e bersabda : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta  mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah U    (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Catatan :

          Hadis ini secara praktis dialami zaman kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, sejumlah rakyatnya ada yang kembali kafir. Maka Abu Bakar bertekad memerangi mereka termasuk diantaranya mereka yang menolak membayar zakat . Maka Umar bin Khottob menegurnya seraya berkata : “ Bagaimana kamu akan memerangi mereka yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah sedangkan Rasulullah telah bersabda : Aku diperintahkan…..(seperti hadis diatas)” . Maka berkatalah Abu Bakar :                     “Sesungguhnya zakat adalah haknya harta”,[1]) hingga akhirnya Umar menerima dan ikut bersamanya memerangi mereka.

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Maklumat peperangan kepada mereka yang musyrik hingga mereka selamat.

2.     Diperbolehkannya membunuh orang yang mengingkari shalat dan memerangi mereka yang menolak membayar zakat.

3.     Tidak diperbolehkan berlaku sewenang-wenang terhadap harta dan darah kaum muslimin.

4.     Diperbolehkannya hukuman  mati bagi setiap muslim jika dia melakukan perbuatan yang menuntut dijatuhkannya hukuman seperti itu seperti : Berzina bagi orang yang sudah menikah (muhshan), membunuh orang lain dengan sengaja dan meninggalkan agamanya dan jamaahnya .

5.     Dalam hadis ini terdapat jawaban bagi kalangan murji’ah yang mengira bahwa iman tidak membutuhkan amal perbuatan.

6.     Tidak mengkafirkan pelaku bid’ah yang menyatakan keesaan Allah dan menjalankan syari’atnya.

7.     Didalamnya terdapat dalil bahwa diterimanya amal yang zhahir dan menghukumi berdasarkan sesuatu yang zhahir sementara yang tersembunyi dilimpahkan kepada Allah.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1.     Aqidah dan syariat harus ditegakkan : 42 : 13,

2.     Perlindungan terhadap nyawa dan harta : 2 : 188, 4 : 93

3.     Besarnya kedudukan zakat  : 9 : 34

 



1. Maksudnya adalah bahwa mereka yang tidak membayar zakat berhak diperangi berdasarkan hak (ajaran) Islam seperti yang disinggung dalam hadis.

Arbain Nawawi II
9/42

الحــديث التـاسع

الحــديث التـاسع

HADIS KESEMBILAN

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ .                      [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

نـَهَيْتُكم : (Aku) larang kalian

اجتنبوا : Mereka menghindari- nya

أَمَرْتُكُم  : (Aku) perintahkan  kalian

أَهْلَكَ  : Menghancurkan

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

          Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendengar Rasulullah e bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.                                           (Bukhori dan Muslim)

 

 

Pelajaran :

1.     Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah e.

2.     Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan.

3.     Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.

4.     Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit.

5.     Menolak keburukan lebih diutamakan dari mendatangkan kemaslahatan.

6.     Larangan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat.

7.     Wajib mengikuti Rasulullah e, ta’at dan menempuh jalan keselamatan dan kesuksesan.

8.     Al Hafiz berkata : Dalam hadis ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan.

 

Tema hadis dan ayat yang terkait :

1. Patuh kepada Rasulullah e  : 59 : 7, 8 : 46

2. Bertakwa sebatas kemampuan : 64 : 16 .

1.     Berdebat yang tak berguna dan bertikai, sumber kehan-curan : 40 : 5

 

Arbain Nawawi II
10/42

الحـديث العاشر

الحـديث العاشر

HADIS KESEPULUH

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى :  ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً - وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ - ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ .                          [رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات

يقبل            : Menerima

يطيل        : Panjang / jauh

أشعث         : Kumal

أغبر         : Berdebu / dekil

يَمُدّ  : Memanjangkan/ mengangkat

فأَنَّى  : Maka dari mana/ bagaimana

 

Terjemah hadis /  ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah e bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Ya Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.                                    (Riwayat Muslim).

 

Pelajaran :

1.     Dalam hadis diatas terdapat pelajaran akan sucinya Allah ta’ala dari segala kekurangan dan cela.

2.     Allah ta’ala tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedekah dengan barang haram tidak akan diterima.

3.     Sesuatu yang disebut baik adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta’ala.

4.     Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.

5.     Orang yang maksiat tidak termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.

6.     Makan barang haram dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.

7.     Anjuran untuk berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.

8.     Seorang hamba akan diberi ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar dirinya diberi kekuatan untuk ta’at kepada Allah.

9.     Doa orang yang sedang safar dan yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.

10. Dalam hadis terdapat sebagian dari sebab-sebab dikabulkannya do’a : Perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kumal dan berdebu, mengangkat kedua tangan ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang halal.

Tema hadis dan ayat yang terkait :

1. Mempersembahkan yang terbaik kepada Allah : 28 : 77

2. Mengkonsumsi yang halal     : 5 : 88

3. Meratap dalam berdoa : 19 : 3, 32 : 16 .

 

 

Arbain Nawawi II
11/42

الحـديث الحادي عشر

الحـديث الحادي عشر

PELAJARAN KESEBELAS

 

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ .

[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

 

Kosa kata / مفردات  :

حفظ(ت)     : (saya) menghafal/

                 mengetahui

دَعْ          : tinggalkan

يريب(ك)   : meragukan-(mu)

 

Terjemah hadis:

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah  e dan kesayangannya y dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah e (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.

(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Hadisnya hasan shoheh)

 

Pelajaran:

1.     Meninggalkan syubhat dan mengambil yang halal akan melahirkan sikap wara’.

2.     Keluar dari ikhtilaf ulama lebih utama karena hal tersebut lebih terhindar dari perbuatan syubhat, khususnya jika diantara pendapat mereka tidak ada yang dapat dikuatkan.

3.     Jika keraguan bertentangan dengan keyakinan maka keyakinan yang diambil.

4.     Sebuah perkara harus jelas berdasarkan keyakinan dan ketenangan. Tidak ada harganya keraguan dan kebimbangan.

5.     Berhati-hati dari sikap meremehkan terhadap urusan agama dan masalah bid’ah.

6.     Siapa yang membiasakan perkara syubhat maka dia akan berani melakukan perbuatan yang haram.

 

Tema hadis dan ayat yang terkait :

1. Meninggalkan keragu-raguan          : 14 : 10, 49 : 15, 2 : 2

 

 

Arbain Nawawi II
12/42

الحــديث الثاني عشر

الحــديث الثاني عشر

HADIS KEDUA BELAS

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

[حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا]

 

Kosa kata /مفردات :

ترك(ـه)  (dia) meninggalkan

يعني(ـه)  : penting (baginya)

 

Terjemah hadis :

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah e bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya .

(Hadis Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

 

Pelajaran:

1.     Termasuk sifat-sifat orang muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina dan rendah.

2.     Pendidikan bagi diri dan perawatannya dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat didalamnya.

3.     Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda kelemahan iman.

4.     Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia maupun akhirat.

5.     Ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian diantara manusia.

 

Tema hadis dan ayat yang terkait :

1.     Optimalisasi waktu dan potensi : 103 : 1-3, 2 : 148

2.     Meninggalkan hidup terlena : 63 : 9, 31 : 6

 

 

 

Arbain Nawawi II
13/42

الحـديث الثالث عشر

الحـديث الثالث عشر

HADIS KETIGA BELAS

 

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ                    [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

يحب               : Mencintai

(لـ)نفس(ـه) : (untuk) diri-(nya)

 

Terjemah hadis :

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah e dari Rasulullah e, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.                               (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.       Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.

2.     Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.

3.     Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

4.     Anjuran untuk menyatukan hati.

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1.     Menyakiti saudara sama dengan menyakiti diri sendiri : 49 : 12,

2.     Ukhuwwah Islamiah   : 49 : 10, 3 : 103

 

 

Arbain Nawawi II
14/42

الحــديث الرابع عشر

الحــديث الرابع عشر

HADIS KEEMPAT BELAS

 

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ                                    [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

  يحل    : halal

دم          :  darah

الثيب     : yang sudah menikah

الزاني     :  orang yang berzina

التارك   : orang yang meninggalkan

المفارق   : memisahkan dirinya

 

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :  

 

Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata : Rasulullah e bersabda : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah e ) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab : Orang tua yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya.                          (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Tidak boleh menumpahkan darah kaum muslimin kecuali dengan tiga sebab, yaitu : zina muhshon (orang yang sudah menikah), membunuh manusia dengan sengaja dan meninggalkan agamanya (murtad) berpisah dari jamaah kaum muslimin.

2.     Islam sangat menjaga kehormatan, nyawa dan agama dengan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang mengganggunya seperti dengan melakukan zina, pembunuhan dan murtad.

3.     Sesungguhnya agama yang disepakati adalah yang dipegang oleh jamaah kaum muslimin, maka wajib dijaga dan tidak boleh keluar darinya.

4.     Hukum pidana dalam Islam sangat keras, hal itu bertujuan untuk mencegah (preventif) dan melindungi.

5.     Pendidikan bagi masyarakat untuk takut kepada Allah ta’ala dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dan keadaan tersembunyi atau terbuka sebelum dilaksanakannya hukuman.

6.     Hadis diatas menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian.

7.     Dalam hadis tersebut merupakan ancaman bagi siapa yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah ta’ala.

 

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Nyawa seorang muslim dilindungi   : 4 : 93

1.     Hukuman dalam Islam sebagai bagian dari perlindungan: 2 : 179

 

 

 

Arbain Nawawi II
15/42

الحديث الخامس عشر

الحديث الخامس عشر

HADIS KELIMA BELAS

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ .                              [رواه البخاري ومسلم]

Kosa kata / مفردات  :

(لـِ)يَصْمُتْ    : (hendaklah) dia diam

يُكْرِم       : memuliakan

جار(ه)            : tetangga-(nya)

ضَيْفَـ(هُ)   : tamu-(nya)

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah e bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya                 (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Pelajaran :

1.     Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.

2.     Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.

3.     Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya .

4.     Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

5.     Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

6.     Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

7.     Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.

8.     Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.

9.     Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.

10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

 

Tema hadis dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :

1. Iman dan pengaruhnya dalam prilaku keseharian        :

2. Menjaga perkataan      : 50 : 18,

3. Hubungan baik dengan tetangga     : 4 : 36,

4. Sikap mulia terhadap tamu   : 51 : 24-27

 

 

Arbain Nawawi II
16/42

الحـديث السادس عشر

الحـديث السادس عشر

HADIS KEENAM BELAS

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ  [رواه البخاري]

 

 

Kosa kata / مفردات :

أَوْصِـ(نِي)  : nasihatilah

                (saya)

لا       : Jangan

ردّد     : mengulanginya

تغضب       : (engkau) marah

مراراً    : berkali-kali

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

                        Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah       ) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhiroi )

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.

2.     Larangan marah.

3.     Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.

 

Tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Meninggalkan sifat pemarah : 3 : 159, 3 : 134

 

Arbain Nawawi II
17/42

الحــديث السابع عشر

الحــديث السابع عشر

HADIS KETUJUH BELAS

 

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ .                                         [رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

الإحسان              : berlaku baik

قتلـ(ـتم)    : (kalian) membunuh

القتلة          : cara membunuh

ذبحـ(ـتم)   : (kalian) menyembelih

الذبحة          : cara menyembelih

يحد         : mengasah/ menajamkan

شفرتـ(ـه)     : pisau- (nya) / alat

يرح         : senangilah

                    menyembelih

ذبيحتـ(ـه): hewan sembelihan(nya)

Terjemah hadis / ترحمة الحديث  :

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu . Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (Riwayat Muslim)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث  :

1.     Syariat Islam menuntut perbuatan ihsan kepada setiap makhluk termasuk diantaranya adalah hewan.

2.     Tidak boleh menyiksa dan merusak tubuh sebagai sasaran dan tujuan, tidak juga boleh menyayat-nyayat orang yang dihukum qishash.

3.     Termasuk ihsan juga berbuat baik terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya. Tidak boleh membebaninya diluar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Profesionalisme : 28 : 77

1.     Berbuat baik hingga kepada seluruh makhluk (ihsan) : 2 : 195

 

 

Arbain Nawawi II
18/42

الحــديث الثامن عشر

الحــديث الثامن عشر

HADIS KEDELAPAN BELAS

 

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ "

 [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

 

Kosa kata / مفردات :

اتَّقِ (الله)   : Bertakwalah (kepada

حيثما     : Dimana saja

                Allah)

السيئة     : keburukan

أتبع        : Ikutialh

خالق     : pergaulilah

تمحـ(ها)  : menghapus-(nya)

(بـ)خُلُق  : (dengan) akhlak

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah saw beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “

(Riwayat Turmuzi, dia berkata hadisnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.

2.     Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.

3.     Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.

4.     Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Takwa, bekal disetiap tempat dan waktu   : 2 : 197

2. Akhlak mulia     : 68 : 4

 

 

Arbain Nawawi II
19/42

الحــديث التاسع عشر

الحــديث التاسع عشر

HADIS KESEMBILAN BELAS

 

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

 

Kosa kata / مفردات :

خلف           : dibelakang

أُعَلِّمُـ(ك)  : (saya) ajarkan (engkau)

اِحْفَظ           : Peliharalah /jagalah

تجاهـ(ك)     : dihadapan-(mu)

اسْتَعَنْـ(تَ)  : (engkau) minta

اجتمعـ(ت)   : berkumpul.

                   pertolongan

يضرو(ك)    : mendatangkan bahaya

ينفعو(ك)      : memberikan manfaat

                    (kepadamu)

                   (kepadamu)

الأقلام         : bentuk jamak dari قلم

رُفِعَـ(ت)     : diangkat

الصحف   : bentuk jamak dari صحيفة

جَفَّـ(ت)      : kering

                yaitu: catatan.

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah[1]), niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu[2]). Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering[3]) .

(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Hadisnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang  ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Perhatian Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan umatnya serta menyiapkan generasi mu’min idaman.

2.     Termasuk adab pengajaran adalah menarik perhatian pelajar agar timbul keinginannya terhadap pengetahuan sehingga hal tersebut lebih terkesan dalam dirinya.

3.     Siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah, nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan akhirat.

4.     Beramal saleh serta melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang dari kesulitan.

5.     Tidak mengarahkan permintaan apapun (yang tidak dapat dilakukan makhluk) selain kepada Allah semata.

6.     Manusia tidak akan mengalami musibah kecuali berdasarkan ketetapan Allah ta’ala .

7.     Menghormati waktu dan menggunakannya kepada sesuatu yang bermanfaat  sebagaimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memanfaatkan waktunya saat beliau berkendaraan.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Menyiapkan generasi beriman        : 4 : 9, 25 : 74, 46 :15

2. Allah tempat bergantung dan berlindung : 1 : 5, 112 : 2

1.     Musibah dan keberuntungan hanya datang dari Allah : 64 : 11, 9 : 51, 7 : 188, 10 : 49.

 

 



1. Maksudnya adalah bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan  perintahnya dan menjauhkan larangannya.

2.  Dengan pertolongan dan perlindungan-Nya.

3. Maksudnya adalah segala sesuatu telah ditakdirkan dan dibukukan pencatatannya oleh Allah taala.

Arbain Nawawi II
20/42

الحــديث العشرون

الحــديث العشرون

HADIS KEDUA PULUH

 

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ .              [رواه البخاري ]

 

Kosa kata / مفردات :

أدرك : diketahui, didapatkan

النبوة               : kenabian

لم      : huruf nafi, artinya: tidak

تستح (تستحي)  : (engkau) malu .

(فـ)ـاصنع : (maka) perbuatlah

شِئْـ(ـت)       : (yang engkau) sukai

 

Terjemah hadis /     ترجمة الحديث :

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah :  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka . (Riwayat Bukhori)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya.

2.     Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun.

3.     Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya.

4.     Rasa malu merupakan prilaku dan dapat dibentuk. Maka setiap orang yang memiliki tanggung jawab hendaknya memperhatikan bimbingan terhadap mereka yang menjadi tanggung jawabnya.

5.     Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran . Allah ta’ala berfirman : “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (33 : 53).

6.     Diantara manfaat rasa malu adalah  ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji)

7.     Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.

 

Tema hadis / موضوعات الحديث :

 Menumbuhkan rasa malu sesuai proporsinya : 33 : 53

 

 

Arbain Nawawi II
21/42

الحــديث الحادي والعشرون

الحــديث الحادي والعشرون

HADIS KEDUAPULUH SATU

 

عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ                       [رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

أسأل : (saya) bertanya

اِسْتَقِم  : istiqomah-lah, berpegang teguhlah.

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث   :

          Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- : Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi radhiallahuanhu dia berkata, saya berkata : Wahai Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang  tidak  saya tanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah .                   (Riwayat Muslim).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Iman kepada Allah ta’ala harus mendahului ketaatan.

2.     Amal saleh dapat menjaga keimanan

3.     Iman dan amal saleh keduanya harus dilaksanakan.

4.     Istiqomah merupakan derajat yang tinggi .

5.     Keinginan yang kuat dari para shahabat dalam menjaga agamanya dan merawat keimanannya.

6.     Perintah untuk istiqomah dalam tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Bertanya untuk mendapatkan kebaikan : 2 : 149, 2 : 512, 2 : 217, 2 : 219, 2 : 219, 2 :220.

1.     Iman dan istiqomah : 41 : 30, 46 : 13, 72 : 16, 15 : 99

 

Arbain Nawawi II
22/42

الحـديث الثاني والعشرون

الحـديث الثاني والعشرون

HADIS KEDUAPULUH DUA

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .         [رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

المكتوبات  : Shalat-shalat fardu

أحللـ(تُ) : (saya)  menghalalkan

حرَّمـ(تُ) : (saya) mengharamkan

أ / هل     : Apakah

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث  :

Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan  yang haram[1]) dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga ?. Beliau bersabda : Ya.

(Riwayat Muslim)

 

Catatan :

* Seseorang yang bertanya dalam riwayat diatas adalah : An Nu’man bin Qauqal.

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث:

1.     Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.

2.     Penghalalan dan pengharaman merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah ta’ala.

3.     Amal saleh merupakan sebab masuknya seseorang kedalam syurga.

4.     Keinginan dan perhatian yang besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya mereka dalam mencari jalan untuk sampai kesana.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Evaluasi diri / muhasabah    : 59 : 18

2. Rindu syurga     : 3 : 133, 66 : 11

3. Memperhatikan halal haram dalam kehidupan: 9 : 29, 66 : 1, 7 : 157

 

 



1. Maksud mengharamkan yang haram adalah: menghindarinya dan maksud menghalalkan yang halal adalah : mengerjakannya dengan keyakinan akan kehalalannya .  

Arbain Nawawi II
23/42

الحديث الثالث والعشرون

الحديث الثالث والعشرون

HADIS KEDUAPULUH TIGA

 

عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ – أَوْ تَمْلآنِ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا       [رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات  :

الطهور        : Bersuci

شطر      : Setengah, sebagian

تملأ (تملآن) : Memenuhi

برهان    : Bukti

يغدو           : Berangkat (pagi hari)

بائع       : menjual

موبق          : Menghancurkan

معتق      : Memerdekakan

ها pada kalimat موبق dan معتق kembali kepada kalimat نفس (jiwa) .


 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Malik Al Haritsy bin ‘Ashim Al ‘Asy’ary radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Bersuci sebagian dari iman, Al Hamdulillah dapat memenuhi timbangan[1]), Subhanallah dan Al Hamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, Sholat adalah cahaya[2]), shadaqah adalah bukti[3]), Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu. Semua manusia berangkat menjual dirinya[4]), ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang menghancurkan dirinya .                       (Riwayat Muslim).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis /  الفوائد من الحديث :

1.     Iman merupakan ucapan dan perbuatan, bertambah dengan amal saleh dan keta’atan dan berkurang dengan maksiat dan dosa.

2.     Amal perbuatan akan ditimbang pada hari kiamat dan dia memiliki beratnya.

3.     Bersuci merupakan syarat sahnya ibadah, karena itu harus diperhatikan.

4.     Menjaga shalat akan mendatangkan petunjuk dan memperbaiki kondisi seorang muslim terhadap manusia, membedakannya dengan akhlaknya dan perilakunya, kewara’annya dan ketakwaannya.

5.     Seruan untuk berinfaq pada jalan-jalan kebaikan dan bersegera melakukannya dimana hal tersebut merupakan pertanda benarnya keimanan.

6.     Anjuran untuk bersabar tatkala mengalami musibah, khususnya apa yang dialami seorang muslim karena perbuatan amar ma’ruf nahi munkar.

7.     Semangat membaca Al Quran dengan pemahaman dan mentadabburi (merenungkan) ma’nanya, menga-malkan kandungan-kandungannya karena hal tersebut dapat memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.

8.       Seorang muslim harus menggunakan waktunya dan umurnya dalam keta’atan kepada Allah ta’ala serta tidak mengabaikannya karena kesibukan lainnya.

 

Tema-tema hadis / موضوعات الحديث :

1. Keutamaan bersuci     : 9 : 108, 2 : 222

2. Keutamaan dan kekuatan zikir       : 8 : 45, 13 : 28

3. Shadaqah : 2 : 261, 57 : 18, 33 : 35.

4. Interaksi dengan Al Quran    : 4 : 82, 7 : 204, 25 : 30

5. Perbuatan manusia kembali kepada dirinya        : 17 : 7

 

 



1. Maksudnya adalah timbangan kebaikan seorang hamba pada hari kiamat.

2. Dikatakan cahaya karena shalat dapat menunjukkan seseorang kepada perbuatan yang baik.

3.  Bukti akan kebenaran keimanannya.

4. Menjual dirinya baik kepada Allah taala dengan mentaati-Nya atau kepada syetan dengan bermaksiat kepada-Nya.

Arbain Nawawi II
24/42

الحــديث الرابع والعشرون

الحــديث الرابع والعشرون

HADIS KEDUAPULUH EMPAT

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ   مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ .   يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ    وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .

[رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

تظالموا             : (kalian) saling     

ضال       : sesat

                        menzalimi

استهدوني : Hendaklah kalian minta

هديـ(تـ)(ـه) : (aku) berikan   hidayah (kepadanya)

hidayah dariku

جائع               : Lapar

أطعمـ(تـ)(ـه) : (Aku) berikan

استطعموني      : Mintalah makan

makan (kepadanya)

                       kepada-Ku

عار : Telanjang

كسو(تـ)(ـه)  : (Aku) memberi pakaian (kepadanya)

استكسوني : Mintalah pakaian kepada-Ku.

تخطئون       : (kalian) melakukan

تبلغوا : (kalian) sampai, dapat

                   kesalahan

زاد  : Menambah

أتقى            : Yang paling bertaqwa

نقص : Mengurangi

أفجر           : Orang yang paling

المخيط : Jarum

                   durhaka

أوفيـ(كم) : (Aku) sempurnakan

صعيد         : Tempat, bukit.

(balasannya)(kepada kalian)

أحصيـ(ها) : (Aku) menghitung(nya)

 

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman [1]): Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun .  Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.                                (Riwayat Muslim)

 

 

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث:

1.     Menegakkan keadilan diantara manusia serta haramnya kezaliman diantara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.

2.     Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.

3.     Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.

4.     Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.

5.     Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.

6.     Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat-Nya dan taufiq-Nya.

7.     Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.

8.     Dalam hadis terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa

 

Tema hadis dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :

1.     Besarnya bahaya kezaliman : 7 : 44, 10 : 13

2.     Allah sumber hidayah dan rezeki   : 18 : 17,

3.     Kemurahan dan ampunan Allah ta’ala : 39 : 53, 7 : 156

4.     Kebaikan dan keburukan akan kembali kepada manusia :     17 : 7, 47 : 38, 7 : 160

 

 



1. Hadis seperti ini disebut hadis qudsi, yaitu hadis yang maknanya dari Allah dan redaksinya dari Rasulullah j.

Arbain Nawawi II
25/42

الحـديث الخامس والعشرون

الحـديث الخامس والعشرون

HADIS KEDUAPULUH LIMA

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى   الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا  : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .       

[رواه مسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

الدثور bentuk jamak dari دثر : harta

الأجور : jamak dari الأجر : pahala

yang banyak

وزر : dosa

فضول : sesuatu yang berlebih

بضع : kemaluan (maksudnya

         adalah: jima’)

 

 

Terjemah hadis / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar radhiallahuanhu : Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam [1]) berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam: “ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya). (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda : Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah ? : Sesungguhnya setiap tashbih [2]) merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sedekah dan setiap kemaluan kalian[3]) merupakan sedekah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah masakah dikatakan berpahala seseorang diantara kami yang menyalurkan syahwatnya ?, beliau bersabda : Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan dijalan yang haram, bukankah baginya dosa ?, demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala.

(Riwayat Muslim)

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadis / الفوائد من الحديث :

1.     Sikap bijak dalam menanggapi berbagai kondisi serta mendatangkan kabar gembira bagi jiwa serta menenangkan perasaan.

2.     Para shahabat berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.

3.     Luasnya keutamaan Allah ta’ala serta banyaknya pintu-pintu kebaikan yang dibuka bagi hamba-Nya.

4.     Semua bentuk zikir sesungguhnya merupakan shodaqoh yang dikeluarkan seseorang untuk dirinya.

5.     Kebiasaan-kebiasaan mubah dan penyaluran syahwat yang disyariatkan dapat menjadi ketaatan dan ibadah jika diiringi dengan niat saleh.

6.     Anjuran untuk meminta sesuatu yang dapat bermanfaat bagi seorang muslim dan yang dapat meningkatkan dirinya ke derajat yang lebih sempurna.

7.     Didalam hadis ini terdapat keutamaan orang kaya yang bersyukur dan orang fakir yang bersabar.

 

Tema hadis dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :

1. Iri terhadap kebaikan orang lain:

2. Pintu-pintu kebaikan terbuka luas  : 2 : 177, 5 : 2

3. Mencari yang halal dan menjauhkan yang haram : 

1.     Menggunakan sesuatu sesuai yang telah ditetapkan:

 

 



1. Yang dimaksud dengang mereka adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang fakir dari kalangan Muhajirin.

2. Tashbih adalah ucapan Shubhanallah.

1. Maksudnya adalah melakukan jima dengan istri.

Arbain Nawawi II
26/42

الحــديث السادس والعشرون

الحــديث السادس والعشرون

HADIS KEDUAPULUH ENAM

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ . [رواه البخاري ومسلم]

 

Kosa kata / مفردات :

سلامَى        : tulang pada telapak

تعدل    : berlaku adil, mendamaikan

tangan dan jari-jari  (yang dimak-

ترفع